Monday, June 30, 2014

visi dan misi lapan pare pare

Soal :
1.             Tuliskan visi dan misi LAPAN!
2.             Jelaskan tugas dan fungi LAPAN!
3.             Jelaskan sejarah singkat LAPAN!
4.             LAPAN dalam konteks keprofesian atau keilmuan MSP/ PSP (sesuai program studi)!
Jawaban :
1.             Visi LAPAN:
Menjadi stasiun bumi satelit penginderaan jauh multimisi berstandar internasional yang mampu memenuhi kontinuitas ketersediaan data nasional.
Misi LAPAN:
Ø   Mempertahankan kontinuitas ketersediaan data penginderaan jauh resolusi rendah, menengah dan tinggi; memperkuat kemampuan dan kemandirian dalam penguasaan pengoperasian dan integrasi sistem stasiun bumi; serta meningkatkan kualitas, produksi, promosi dan penyebarluasan data/informasi penginderaan jauh.
Ø   Mempertahankan kontinuitas ketersediaan data penginderaan jauh resolusi rendah dan menengah, memperkuat kemampuan dan kemandirian dalam penguasaan teknologi sensor, sistem stasiun bumi dan Bank Data Penginderaan Jauh, serta meningkatkan kualitas, produksi, promosi, dan penyebarluasan data/informasi penginderaan jauh.
Ø   Dalam memujudkan visi Pusdata sebagai pusat rujukan kemandirian penguasaan teknologi dan bank data penginderaan jauh, teknis pelaksanaan operasional penerimaan data satelit penginderaan jauh dan diseminasi data serta informasi penginderaan jauh di Indonesia bagian tengah dilakukan oleh Balai Penginderaan Jauh LAPAN Parepare.

2.             Tugas LAPAN :
Melaksanakan penerimaan, perekaman, dan pengolahan data satelit penginderaan jauh sumber daya alam, lingkungan dan cuaca, serta distribusi dan pelayanan teknis pemanfaatan data satelit penginderaan jauh.
Fungsi LAPAN :
Ø   Penyiapan dan penyusunan program dan kegiatan balai.
Ø   Pelaksanaan penerimaan, perekaman, dan pemeliharaan peralatan teknis stasiun bumi.
Ø   Pelaksanaan pengolahan data satelit dan produksi data master serta katalog.
Ø   Pelayanan pengguna, sosialisasi pemanfaatan data satelit dan penyiapan bahan pelaksanaan kerja sama teknis di bidangnya.
Ø   Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.
3.             Sejarah Singkat LAPAN :
Kronologi Pembentukan LAPAN 
Pada tanggal 31 Mei 1962, dibentuk Panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, Ir. Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun (selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI). 
Tanggal 22 September 1962, terbentuknya Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB. Berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri Kartika berikut telemetrinya. 
Tanggal 27 November 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN. 
Penyempurnaan organisasi LAPAN melalui :
·                Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 Tahun 1974,
·                Keppres Nomor 33 Tahun 1988,
·                Keppres Nomor 33 Tahun 1988 jo Keppres Nomor 24 Tahun 1994,
·                Keppres Nomor 132 Tahun 1998,
·                Keppres Nomor 166 Tahun 2000 sebagaimana diubah beberapa kali yang terakhir dengan Keppres Nomor 62 Tahun 2001,
·                Keppres Nomor 178 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah beberapa kali yang terakhir dengan Keppres 60 Tahun 2001,
·                Keppres Nomor 103 Tahun 2001.


Lingkup Kegiatan
·                Pengembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh.
·                Pemanfaatan sains atmosfer, iklim dan antariksa.
·                Pengembangan teknologi dirgantara.
·                Pengembangan kebijakan kedirgantaraan nasional.
 SEJARAH BALAI PENGINDERAAN JAUH LAPAN PAREPARE :
Tahun 1993 dibangun Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh (SBSPJ) LAPAN, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1993 dan dikepalai oleh Ir. Nur Hidayat. Letak stasiun ini berada di tepi kota Parepare, sekitar 155 km sebelah utara Kota Makassar (Provinsi Sulawesi selatan).
Beberapa alasan SBSPJ dibangun di Parepare, yaitu:
·                daerah liputan optimal (95 % Wilayah Indonesia),
·                tersedianya fasilitas pendukung (listrik dan telekomunikasi internasional), dan
·             tersedianya lokasi yang memenuhi persyaratan teknis.
 Fungsi dari SBSPJ Lapan Parepare adalah :
·                melaksanakan penerimaan, perekaman, dan pengelolaaan data satelit penginderaan jauh,
·                melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan Stasiun Bumi,
·                menginventarisasi kebutuhan bahan penunjang dan suku cadang untuk kelancaran operasi dan pemeliharaan dan perbaikan Stasiun Bumi, dan
·                melakukan koordinasi dengan bidang lain dalam penelitian dan pengembangan untuk menunjang kelancaran operasi Stasiun Bumi.
Stasiun Bumi tersebut menerima data satelit JERS-1 (data SAR (Synthetic Aperture Radar) dan  OPS (Optical Sensor)), SPOT2, LANDSAT, ERS-1, dan ERS-2.
Tahun 2001, Stasiun Bumi Penginderaan Jauh (SBSPJ) berubah namanya menjadi Instalasi Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam (IISDA) LAPAN Parepare. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala LAPAN Nomor Kep/010/II/2001, Instalasi Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam (Instalasi Inderaja SDA LAPAN) mempunyai tugas melaksanakan : Penerimaan, Perekaman, dan Pengelolaan Data satelit serta distribusi dan pelayanan teknis pemanfaatan data satelit Indraja untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah.  IISDA LAPAN Parepare dikepalai oleh  Ir. Wawan K. Harsanugraha, M.Si dan Kasubbag TU perbantuan Drs. Ngadino. Pada Tahun 2007, Ir. Wawan K. Harsanugraha, M.Si digantikan oleh Ir Dedi Irawadi dan Kasubbag TU perbantuan Drs. Ngadino digantikan oleh Winanto, A.Md.
Pada periode ini data satelit penginderaan jauh yang direkam yaitu dari satelit Landsat, SPOT2, SPOT4, dan Modis (Aqua dan Terra).
Tahun 2011 tepatnya tanggal 20 Juni 2011  IISDA LAPAN PAREPARE  berubah namanya menjadi UPT Balai Penginderaan Jauh Parepare dan dikepalai oleh Ir. Dedi Irawadi. Pejabat struktural yang berada di bawah Kepala Balai ada 4 Kasi, yaitu: Kasi Akuisisi (Winanto, A.Md.), Kasi Data (Ahmad Luthfi H., S.T., M.Sc), Kasi Pengguna (Sarip Hidayat, S.Pi., M.T.), dan Kasubbag TU (Aries Maulana). Data satelit yang direkam adalah data SPOT4 dan Modis (Aqua dan Terra).
Dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2011, Balai Penginderaan Jauh LAPAN Parepare menggunakan 3 antena untuk merekam data satelit penginderaan jauh. Ketiga antena tersebut antara lain dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Ø    Antena Scientific Atalanta :Antena ini mulai dioperasikan dari tahun 1993 sampai dengan 10 Maret 2010.
Ø    Antena NEC : Antena ini mulai dioperasikan dari tahun 1995 sampai dengan 9 November 2004.
Ø    Antena Seaspace : Antena ini mulai dioperasikan dari tanggal 29 Juni 2009 sampai dengan sekarang.
4.             dengan adanya LAPAN maka operasi penangkapan dapat berjalan dengan lancar dengan memanfaatkan suhu permukaan laut, kandungan klorofil perairan dari citera yang dihasilkan oleh satelit yang di olah oleh pihak LAPAN yang terkait. Apa bila kita sudah mendapat data tentang suhu permukaan laut, kandungan klorofil perairan maka kita bisa mengetahui dimana ikan berada, seperti pada suhu karena semua ikan mempunyai konsentrasi suhu yang berbeda begitu pula dengan klorofil apa bila kandungan klorofil banyak maka pasti sudah banyak ikan di daerah tersebut.
Sumber:
Anonym. http://222.124.178.110/html/profil.php?id=profil&kode= 12&profil= Sejarah% 20Singkat diakses pada tanggal 23 april 2014 pada pukul 19.00 wita.

Anonym. http://222.124.178.110/html/profil.php?id=profil&kode=11&profil= Visi%20dan%20Misi diakses pada tanggal 23 april 2014 pada pukul 19.00 wita.

Sunday, May 4, 2014

Balai Penginderan Jarak Jauh LAPAN Parepare

TUGAS PENDAHULUAN PRAKTEK LAPANG
Soal :
Tuliskan visi dan misi LAPAN!
Jelaskan tugas dan fungi LAPAN!
Jelaskan sejarah singkat LAPAN!
LAPAN dalam konteks keprofesian atau keilmuan MSP/ PSP (sesuai program studi)!

Jawaban :
Visi LAPAN:
Menjadi stasiun bumi satelit penginderaan jauh multimisi berstandar internasional yang mampu memenuhi kontinuitas ketersediaan data nasional.
Misi LAPAN:
Ø  Mempertahankan kontinuitas ketersediaan data penginderaan jauh resolusi rendah, menengah dan tinggi; memperkuat kemampuan dan kemandirian dalam penguasaan pengoperasian dan integrasi sistem stasiun bumi; serta meningkatkan kualitas, produksi, promosi dan penyebarluasan data/informasi penginderaan jauh.
Ø  Mempertahankan kontinuitas ketersediaan data penginderaan jauh resolusi rendah dan menengah, memperkuat kemampuan dan kemandirian dalam penguasaan teknologi sensor, sistem stasiun bumi dan Bank Data Penginderaan Jauh, serta meningkatkan kualitas, produksi, promosi, dan penyebarluasan data/informasi penginderaan jauh.
Ø  Dalam memujudkan visi Pusdata sebagai pusat rujukan kemandirian penguasaan teknologi dan bank data penginderaan jauh, teknis pelaksanaan operasional penerimaan data satelit penginderaan jauh dan diseminasi data serta informasi penginderaan jauh di Indonesia bagian tengah dilakukan oleh Balai Penginderaan Jauh LAPAN Parepare.

Tugas LAPAN :
Melaksanakan penerimaan, perekaman, dan pengolahan data satelit penginderaan jauh sumber daya alam, lingkungan dan cuaca, serta distribusi dan pelayanan teknis pemanfaatan data satelit penginderaan jauh.
Fungsi LAPAN :
Ø  Penyiapan dan penyusunan program dan kegiatan balai.
Ø  Pelaksanaan penerimaan, perekaman, dan pemeliharaan peralatan teknis stasiun bumi.
Ø  Pelaksanaan pengolahan data satelit dan produksi data master serta katalog.
Ø  Pelayanan pengguna, sosialisasi pemanfaatan data satelit dan penyiapan bahan pelaksanaan kerja sama teknis di bidangnya.
Ø  Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.
Sejarah Singkat LAPAN :
Kronologi Pembentukan LAPAN 
Pada tanggal 31 Mei 1962, dibentuk Panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, Ir. Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun (selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI). 
Tanggal 22 September 1962, terbentuknya Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan ITB. Berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri Kartika berikut telemetrinya. 
Tanggal 27 November 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN. 
Penyempurnaan organisasi LAPAN melalui :
Ø  Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 Tahun 1974,
Ø  Keppres Nomor 33 Tahun 1988,
Ø  Keppres Nomor 33 Tahun 1988 jo Keppres Nomor 24 Tahun 1994,
Ø  Keppres Nomor 132 Tahun 1998,
Ø  Keppres Nomor 166 Tahun 2000 sebagaimana diubah beberapa kali yang terakhir dengan Keppres Nomor 62 Tahun 2001,
Ø  Keppres Nomor 178 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah beberapa kali yang terakhir dengan Keppres 60 Tahun 2001,
Ø  Keppres Nomor 103 Tahun 2001.


Lingkup Kegiatan:
Ø  Pengembangan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh.
Ø  Pemanfaatan sains atmosfer, iklim dan antariksa.
Ø  Pengembangan teknologi dirgantara.
Ø  Pengembangan kebijakan kedirgantaraan nasional.
 SEJARAH BALAI PENGINDERAAN JAUH LAPAN PAREPARE :
Tahun 1993 dibangun Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh (SBSPJ) LAPAN, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1993 dan dikepalai oleh Ir. Nur Hidayat. Letak stasiun ini berada di tepi kota Parepare, sekitar 155 km sebelah utara Kota Makassar (Provinsi Sulawesi selatan).
Beberapa alasan SBSPJ dibangun di Parepare, yaitu:
Ø  daerah liputan optimal (95 % Wilayah Indonesia),
Ø  tersedianya fasilitas pendukung (listrik dan telekomunikasi internasional), dan
Ø  tersedianya lokasi yang memenuhi persyaratan teknis.
 Fungsi dari SBSPJ Lapan Parepare adalah :
Ø  melaksanakan penerimaan, perekaman, dan pengelolaaan data satelit penginderaan jauh,
Ø  melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan Stasiun Bumi,
Ø  menginventarisasi kebutuhan bahan penunjang dan suku cadang untuk kelancaran operasi dan pemeliharaan dan perbaikan Stasiun Bumi, dan
Ø  melakukan koordinasi dengan bidang lain dalam penelitian dan pengembangan untuk menunjang kelancaran operasi Stasiun Bumi.
Stasiun Bumi tersebut menerima data satelit JERS-1 (data SAR (Synthetic Aperture Radar) dan  OPS (Optical Sensor)), SPOT2, LANDSAT, ERS-1, dan ERS-2.
Tahun 2001, Stasiun Bumi Penginderaan Jauh (SBSPJ) berubah namanya menjadi Instalasi Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam (IISDA) LAPAN Parepare. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala LAPAN Nomor Kep/010/II/2001, Instalasi Penginderaan Jauh Sumber Daya Alam (Instalasi Inderaja SDA LAPAN) mempunyai tugas melaksanakan : Penerimaan, Perekaman, dan Pengelolaan Data satelit serta distribusi dan pelayanan teknis pemanfaatan data satelit Indraja untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah.  IISDA LAPAN Parepare dikepalai oleh  Ir. Wawan K. Harsanugraha, M.Si dan Kasubbag TU perbantuan Drs. Ngadino. Pada Tahun 2007, Ir. Wawan K. Harsanugraha, M.Si digantikan oleh Ir Dedi Irawadi dan Kasubbag TU perbantuan Drs. Ngadino digantikan oleh Winanto, A.Md.
Pada periode ini data satelit penginderaan jauh yang direkam yaitu dari satelit Landsat, SPOT2, SPOT4, dan Modis (Aqua dan Terra).
Tahun 2011 tepatnya tanggal 20 Juni 2011  IISDA LAPAN PAREPARE  berubah namanya menjadi UPT Balai Penginderaan Jauh Parepare dan dikepalai oleh Ir. Dedi Irawadi. Pejabat struktural yang berada di bawah Kepala Balai ada 4 Kasi, yaitu: Kasi Akuisisi (Winanto, A.Md.), Kasi Data (Ahmad Luthfi H., S.T., M.Sc), Kasi Pengguna (Sarip Hidayat, S.Pi., M.T.), dan Kasubbag TU (Aries Maulana). Data satelit yang direkam adalah data SPOT4 dan Modis (Aqua dan Terra).
Dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2011, Balai Penginderaan Jauh LAPAN Parepare menggunakan 3 antena untuk merekam data satelit penginderaan jauh. Ketiga antena tersebut antara lain dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Ø  Antena Scientific Atalanta :Antena ini mulai dioperasikan dari tahun 1993 sampai dengan 10 Maret 2010.
Ø  Antena NEC : Antena ini mulai dioperasikan dari tahun 1995 sampai dengan 9 November 2004.
Ø  Antena Seaspace : Antena ini mulai dioperasikan dari tanggal 29 Juni 2009 sampai dengan sekarang.
LAPAN dalam konteks keprofesian atau keilmuan MSP/ PSP (sesuai program studi)!
dengan adanya LAPAN maka operasi penangkapan dapat berjalan dengan lancar dengan memanfaatkan suhu permukaan laut, kandungan klorofil perairan dari citera yang dihasilkan oleh satelit yang di olah oleh pihak LAPAN yang terkait. Apa bila kita sudah mendapat data tentang suhu permukaan laut, kandungan klorofil perairan maka kita bisa mengetahui dimana ikan berada, seperti pada suhu karena semua ikan mempunyai konsentrasi suhu yang berbeda begitu pula dengan klorofil apa bila kandungan klorofil banyak maka pasti sudah banyak ikan di daerah tersebut.
Sumber:
Anonym. http://222.124.178.110/html/profil.php?id=profil&kode= 12&profil= Sejarah% 20Singkat diakses pada tanggal 23 april 2014 pada pukul 19.00 wita.
Anonym. http://222.124.178.110/html/profil.php?id=profil&kode=11&profil= Visi%20dan%20Misi diakses pada tanggal 23 april 2014 pada pukul 19.00 wita.

Friday, November 1, 2013

Penanganan Ikan DI Darat

NAMA           : ARDI
NIM               : L23111901
PRODI           : Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan

SOAL UJIAN AKHIR MATA KULIAH PENANGANAN HASIL TANGKAPAN
1.       Jelaskan 4 prinsip yang harus diterapkan dalam penanganan ikan di darat
2.       Jelaskan mengapa keempat prinsip tersebut harus diterapkan
3.       Jelaskan mengapa ikan yang baru saja mati disebut bahan pangan yang berada dalam tingkat kesegaran yang maksimal
4.       Jelaskan apa yang terjadi jika ikan hasil tangkapan tidak sesegera mungkin ditangani dengan baik
5.       Buat 3 soal yang terkait dengan sanitasi penanganan ikan di darat dan berikan jawaban yang relevan.

Penanganan Hasil Tangkapan Ikan Yang Baik Diatas Kapal

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mudah membusuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutunya menurun. Oleh karena itu Ikan harus beri suatu perlakuan atau penangan yang baik agar supaya mutu kualitasnya tdk menurun, bagaimana caranya?? dengan menerapkan suatu prinsip penanganan, yaitu:
ü  Cepat,
ü  Cermat,
ü  Bersih dan Sehat,
ü  Dan menerapkan suhu rendah (± O0 C ).

Overfishing Dan solusinya di KKLD Selat Dampier

Pusat keanekaragaman hayati laut dunia berada di kawasan yang dinamakan segitiga karang dunia. Di wilayah ini memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi untuk semua ekosistem pesisir yang ada di dunia. Tetapi keadaan tersebut mengalami penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil penelitian para ahli kelautan, mengungkapkan bahwa ancaman terbesar untuk berkurangnya stok perikanan adalah overfishing. Secara sederhana overfishing dapat diartikan sebagai penurunan jumlah sumberdaya laut yang tajam disebabkan karena  aktivitas penangkapan semakin tinggi untuk memenuhi kebutuhan protein sehingga menimbulkan degradasi pada system di laut,  sementara sumber daya ikan dan biota laut lainnya semakin berkurang tanpa ada kesempatan untuk bereproduksi.
Ada beberapa defenisi dan bentuk overfishing yang yang terjadi diantaranya adalah :

Kenapa ada perbedaan warna atau stok ikan di perairan??

Nama   : ARDI
Nim     : L231 11 901
Prodi   : Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan
Mata kuliah :
Daerah penangkapan ikan


Kenapa ada perbedaan warna atau stok ikan di perairan??
Keberadaan stok ikan di suatu perairan sangatlah berbeda. Karena faktor suhu di perairan. Ikan sangat bergantung pada suhu di suatu perairan. Oleh  karena itu, ikan di perairan tidak sama toleransinya terhadap suhu. Itu sebabnya ikan akan mencari tempat yang nyaman  yang sesuai keinginannya untuk tinggal.

Tuesday, October 29, 2013

Pengantar Teknologi Alat Bantu

II. PENGANTAR TEORI
Indonesia  merupakan  negara  kepulauan  yang luas  terbentang  dari Sabang
hingga  ke Merauke  dengan  jumlah  pulau  lebih  dari  1.700  buah  dengan  potensi
sumberdaya  perikanan  laut  diperkirakan  sebesar    6,7  juta  ton/tahun  dan  baru
dimanfaatkan sekitar 48% (Dahuri,  1996). Di sepanjang pantai pulau-pulau tersebut,
hidup para nelayan  yang mencari nafkah dengan menggunakan berbagai ragam alat
tangkap dan alat bantu penangkapan ikan.